Adat dan tradisi warga masyarakat Desa Kalikudi masih sangat kental. Seperti halnya tradisi among-among. Tradisi ini sering dilakukan sebagai kegiatan atau acara selamatan wetonan atau hari lahir seseorang.

Among-among ini biasanya dimulai sejak pertama kali anak baru lahir. Pada hari tertentu dalam hitungan Jawa, hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu dan hari pasaran pon, wage, kliwon, legi, pahing yang digabungkan hari biasa dengan hari pasarang seperti Senin pon. Hari ini lah yang menjadi hitungan hari wetonan (hari pada saat seseorang lahir).

Tradisi among-among biasanya seringkali dijumpai pada masa anak-anak. Sekitar berumur di bawah usia tiga tahun. Tradisi ini merupakan salah satu upaya ucap syukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan kesehatan kepada si jabang bayi.

Hidangan Among-among ini adalah beberapa sayuran hijau yang direbus atau sering disebut dengan kluban adem, telur rebus, nasi putih dan kedelai hitam yang disajikan pada nampan. Nasi putih sebagai dasarnya dan ditaburi gorengan kedelai hitam serta sayuran hijau yang direbus diletakan pada pinggir mengelilingi. Di bagian atas ada irisan telur rebus sebagai lauknya.

Nampan ini ditaruh di atas baskom yang berisi air yang diberi daun dadap srep serta uang koin. Sedangkan masyarakat yang diundang dalam acara among-among adalah anak-anak yang berkumpul mengililingi nampan bundar tersebut. Doa ucap syukur pun dilantunkan sebelum acara dimulai. Setelah selesai, anak-anak diberi uang saku dan membawa bekal (baca: brekat) hidangan among-among tersebut untuk dibawa pulang.

Tradisi among-among tidak hanya pada usia anak-anak saja, melainkan pada usia remaja hingga dewasa masih ada juga. Namun, hidangan yang disajikan berebeda dengan pada usia anak-anak.

Itulah salah satu tradisi yang masih ada dan dilestarikan oleh warga masyarakat Desa Kalikudi. Kebudayaan dan adat memang harus tetap ada dan menjadikan pondasi sebuah kebudayaan negara.

(wah)